Rabu, 06 Oktober 2021

Makodim Brebes Pernah Jadi Markas Intel Belanda dan RPKAD


Brebes – Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0713 Brebes ternyata menyimpan berbagai catatan sejarah, baik pada masa revolusi (1945-1949) konflik antara Indonesia dengan penjajah Belanda, dan juga pada tahun 1965 saat terjadi penumpasan G30S PKI oleh pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau sekarang dikenal sebagai Kopassus.

Dijelaskan oleh Wijanarto, S.Pd. M.Hum, sejarawan Pantura asal Brebes yang juga merupakan Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Brebes, di masa revolusi itu Makodim 0713 Brebes dijadikan Belanda sebagai markas intel atau Nevis (Intel Belanda) dengan tujuan untuk memata-matai/memantau pergerakan para pejuang RI yang berusaha mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Walaupun sebenarnya gerakan revolusi sendiri telah dimulai sejak tahun 1908, dimana saat ini diperingati sebagai tahun kebangkitan nasional, namun rangkaian-rangkaian revolusi mencapai puncaknya mulai dari proklamasi kemerdekaan RI hingga pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Kerajaan Hindia Belanda pada 29 Desember 1949.

“Tentara Nica berusaha merebut kemerdekaan RI pada kurun waktu 1945-1949. Di Brebes, sekarang Kodim 0713 Brebes, dulu dijadikan markas Nevis karena letaknya sangat strategis di Jalan Daendels (jalan Pantura dulu) dimana sekarang bernama Jalan Jenderal Sudirman,” terangnya kepada Dandim Brebes Letkol Armed Mohamad Haikal Sofyan di Ruang Transit Kodim Brebes, Senin (4/10/2021).

Dijelaskan lebih mendalam oleh Wijanarto, berselang 16 tahun kemudian pasca peristiwa revolusi itu atau tepatnya tanggal 7 Oktober 1965, Makodim Brebes dijadikan markas RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) atau Kopassus, dengan tujuan untuk menumpas antek-antek dan pelarian PKI dari Jakarta yang masuk ke Jawa Tengah.

Untuk di Brebes sendiri, basis PKI berada di wilayah Brebes Tengah (Kecamatan Kersana, Banjarharjo, dan Ketanggungan) dan Pantura.

Langkah strategis RPKAD yaitu melakukan Operasi Pagar Betis dengan mendirikan markas di dua tempat, pertama di Tanjung (Koramil 04 Tanjung saat ini) untuk menumpas PKI di wilayah Brebes tengah, yang kedua adalah di Makodim Brebes untuk membackup jalur Pantura atau Brebes kota.

Tentu saja kehadiran pasukan RPKAD di wilayah Brebes ini mengobarkan semangat ormas-ormas dan masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap PKI.

“Puncaknya adalah penumpasan anggota gerakan kiri maupun simpatisannya itu (PKI), saat menggelar rapat akbar di Alun-alun Brebes pada 18 Oktober 1965. Sedangkan untuk mayat-mayatnya dihanyutkan di Sungai Pemali/Kali Pemali,” sambungnya.

Lanjut Wijanarto, Markas Kodim Brebes adalah zonasi inti dari bangunan sejarah yang ada di Brebes. Untuk bangunan pendukung lainnya adalah markas vice police Brimob yang didirikan tahun 1920 dimana sekarang adalah Polres Brebes.

“Sebelum menjadi Polres Brebes, markas vice police Brimob dijadikan rumah dinas guru,” tandasnya.

Kemudian ada Prasasti/Tugu Sindangheula di Kecamatan Banjarharjo, tugu di Stasiun Kereta Api Ketanggungan, Museum Juang 45 di Brebes Kota, Tugu Kopassus di Dusun Ciwindu Desa Wanoja Kecamatan SalemJembatan Berdarah Penumpasan G30S PKI yang berada di Desa Wanacala Kecamatan Songgom, TMP Kusumatama di Brebes, TMP Kusumatama II di Kecamatan Bumiayu, dan TMP Pagerayu di Desa Jatirokeh Kecamatan Songgom.

Khusus di TMP Pagerayu Songgom, disini menyimpan jasad 37 pejuang kemerdekaan yang meregang nyawa di tiga rumah (milik Almarhum Jazuli, Medah, dan Soyu) yang diberondong peluru pasukan Belanda sejak subuh hingga pagi hari (1948) setelah pergerakan mereka tercium oleh Nevis yang bermarkas di Makodim.

Tentara Belanda juga membakar rumah milik Medah dan Soyu karena dianggap sebagai tempat persembunyian laskar merah putih.

Pasca pembantaian dari ketiga rumah, oleh warga setempat ke-37 pejuang yang berlumuran darah itu langsung dikuburkan di depan rumah pembantaian itu (di tanah milik Almarhumah Kalimah) tanpa dimandikan dan dikafani karena warga menganggap mereka gugur sebagai syuhada.

Saat ini kondisi makam tersebut masih terpelihara oleh pihak desa. Kemudian warga setempat menamai daerah itu sebagai blok pahlawan.

Di TMP Pagerayu Jatirokeh Songgom, pemimpin pasukan yang dibantai itu bernama Kapten Ismail (Pahlawan Nasional). Identitasnya terungkap oleh keluarganya setelah beberapa tahun kemudian dari cincin kawin yang melingkar di kerangka jarinya. Sedangkan ke-36 prajuritnya tanpa nama di nisannya.

Kerangka Kapten Ismail kemudian dipindahkan ke TMP di Kota Tegal. Kemudian sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan asal Tegal itu maka namanya dijadikan nama salah satu jalan protokol di Kota Tegal, tepatnya di daerah Pekauman, Tegal Barat.

Ada juga Operasi GBN (Operasi Gerakan Banteng Nasional) yaitu operasi penumpasan DI/TII (1949-1950) di Jawa Tengah yang dipimpin Letkol M. Sarbini dengan markas staf komandonya berada di Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal, untuk wilayah operasinya meliputi wilayah Kabupaten Brebes, Banyumas dan Cilacap.

GBN sendiri merupakan Satgas gabungan dari satuan-satuan tempur Divisi Siliwangi, Divisi Diponegoro dan Divisi Brawijaya. Tujuan utama dibentuknya Komando Operasi GBN adalah untuk memisahkan antara Darul Islam Amir Fatah di wilayah Jawa Tengah dengan Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, dan kemudian menghancurkan sampai ke akar-akarnya.

DI/TII di daerah Tegal-Brebes pimpinan Amir Fatah, juga merupakan pemberontakan bermotif syariat islam untuk mendirikan NII (Negara Islam Indonesia) seperti Kartosuwiryo di Jawa Barat (imam/ketua utama NII).

Setelah DI/TII Amir Fatah padam, selanjutnya pada tahun 1962 terjadi peristiwa penumpasan DI/TII Kartosuwiryo oleh pasukan Kodam III Siliwangi untuk memulihkan keamanan di Jawa Barat dengan nama Operasi Pagar Betis Brata Yuda, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 1958, yang isinya tentang penumpasan DI/TII.

Penumpasan ini juga melebar ke wilayah Jawa Tengah yaitu di wilayah Kabupaten Brebes selatan (Kecamatan Bumiayu, Bantarkawung, dan Salem), sehingga pasukan Siliwangi bergabung dengan pasukan GBN (Kodam IV Diponegoro saat ini) untuk mempercepat penumpasan.

Bahkan pergerakan Gerilyawan Siliwangi itu melebar hingga ke wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, dengan melewati jalur Brebes di wilayah Kecamatan Salem, Banjarharjo, Songgom.

Tak hanya itu, pasukan gabungan itu juga melibatkan masyarakat secara luas dengan tujuan mempercepat penemuan persembunyian Kartosuwiryo sang proklamator NII.

Saksi bisu adanya penumpasan DI/TII di wilayah Brebes yaitu masih adanya rumah tahanan/sel DI/TII sampai saat ini yang terletak di Kantor Pegadaian Bumiayu.

Pun kata Wijanarto, banyak jenderal-jenderal TNI yang asal maupun kariernya bermula di Brebes.

Jadi, dengan banyaknya tempat dan tokoh sejarah di Brebes maka sudah sepantasnya Brebes juga diusulkan menjadi kota perjuangan. Ia juga meminta agar Pemkab secepatkan mengusulkan pencatatan peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan bangsa itu agar tidak menguap begitu saja mumpung beberapa sumber sejarah masih hidup untuk menguatkan.

Pasalnya, Brebes jelas punya peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI maupun konflik internal tersebut.

Tidak semua sejarah perjuangan bangsa di Brebes tercatat di arsip yang tersimpan di Dokumen Hari Jadi Brebes,  sehingga sejarah-sejarah lainnya perlu kita catatkan segera agar nantinya dapat diketahui anak cucu kita,” imbuhnya.

Tak lupa di hari jadi TNI yang ke-76 ini, dirinya mengucapkan Dirgahayu TNI. Bersama rakyat TNI kuat.

Sementara itu, Dandim Letkol Armed Haikal Sofyan mengaku bahwa dirinya baru mengetahui bahwa Makodim Brebes memiliki catatan sejarah yang luar biasa dan sampai saat ini belum ada narasi sejarah yang valid.

Untuk itulah dirinya akan membantu mendorong Pemkab untuk mencatatkan sejarah-sejarah penting itu sebagai kenang-kenangan berdinas di Brebes. Termasuk adanya upaya situs-situs bersejarah itu.

“Menurut saya memang harus ada catatan-catatan secara otentik yang bisa menjelaskan kepada generasi kita selanjutnya tentang perjuangan TNI dan rakyat Brebes,” ujarnya.

Perlu diketahui sebagai referensi, pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), bermula dari adanya pembatasan wilayah kekuasaan RI hasil dari Perjanjian Renville pada 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat yang berlabuh di Jakarta sebagai tempat netral USS Renville.

Penolakan terhadap Perjanjian Renville diwujudkan dengan menolak untuk mengosongkan wilayah Jawa Barat yang saat itu menjadi wilayah Belanda dengan dasar perjanjian itu.

Gerombolan Kartosuwiryo kemudian memproklamasikan NII (Negara Islam Indonesia) dengan angkatan bersenjatanya bernama DI/TII, sebagai bentuk kekecewaan kepada Belanda dan pemerintah Indonesia yang dinilai terlalu lunak sehingga NII akan memisahkan diri dari NKRI.

Adanya pemberontakan itu membuat Belanda tak tinggal diam sehingga melakukan Agresi Militer Belanda ke-II (19-20 Desember 1948) yang bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan di Indonesia. (Aan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar